Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

RI-Polandia Bahas Produk Militer Bersama

Written By Unknown on Kamis, 05 September 2013 | 10.31

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diantar oleh Wakil Presiden Boediono saat akan berangkat berkunjung ke Kazakhstan, Polandia dan Rusia di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu (1/9). Serangkaian perjalanan Presiden SBY itu berlangsung pada 1-7 September 2013. TEMPO/Subekti

TEMPO.CO, Jakarta -Kunjungan kenegaraan Presiden SBY ke Polandia rupanya menjajaki rencana kerjasama pertahanan kedua negara.  Topik strategis ini mengemuka saat  SBY dan Presiden Bronislaw Komorowski memimpin kedua delegasi para menteri dalam pembicaraan bilateral, Rabu pagi waktu setempat (4 September 2013), menyusul pembicaraan empat mata kedua kepala negara.  Sedangkan upacara penyambutan kenegaraan dan inspeksi militer menyambut rombongan SBY berlangsung di pelataran Istana Kepresidenan, di Krakowskie Przedmiescie 46/46, di pusat kota Warsawa.

"Sedang dijajaki kerjasama pertahanan berupa joint production, atau produksi bersama, jadi bukan sekadar membeli peralatan militer," ujar Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto kepada Tempo, Rabu siang, di lobi hotel Hyatt Regency, Warsawa, tempat rombongan SBY menginap. Tindak lanjut program ini, menurut Menteri Djoko Suyanto, akan dilakukan Kementerian Pertahanan dan komite industri pertahanan.

Menteri Djoko menambahkan bahwa pihak Polandia menawarkan pelbagai produk pertahanan yang kelak bisa diproduksi bersama. "Dari pesawat terbang, heli hingga kendaraan taktis tempur mereka tawarkan," katanya. Dengan begitu, maka produksi kapal misalnya akan bekerjasama dengan PT PAL, senjata dengan PT Pindad dan pesawat dengan PT Dirgantara Indonesia.  "Ini penjajakan awal dalam pembicaraan bilateral yang akan ditindaklanjuti Menhan dan komite industri pertahanan," kata Djoko.

Jejak industri militer Polandia memang ada di Indonesia. Kepolisian RI misalnya, ujar Djoko, sudah membeli pesawat angkut jenis M28 Skytruck berkapasitas 20 orang bikinan PZL Mielec, perusahaan produk militer di negara berpenduduk sekitar 38 juta jiwa ini. "Embrionya sudah ada sejak tahun 1960-an, dulu pernah ada radar dan hanggar buatan Polandia. Di zaman Bung Karno dulu di Madiun, Jawa Timur, ada hanggar Polandia," kata MenkoPolhukkam. Kerjasama produksi ini pada dasarnya sama dengan yang dilakukan RI dengan Korea Selatan, Perancis dan Spanyol—negara terakhir ini memproduksi bareng pesawat CN-235.

Wahyu Muryadi (Warsawa)


10.31 | 0 komentar | Read More

Bos Skytruck Keluhkan Kerjasama dengan Polri

TEMPO.CO, Jakarta -Kerjasama produk industri militer dengan Indonesia ditanggapi dengan dingin oleh pengusaha Polandia. Janusz Zakrecki, President/Direktur Umum Polskie Zaklady Lotnicze (PZL) Mielec, yang memproduksi pesawat angkut ringan M28 Skytruck dan dibeli Kepolisian RI, mengaku tak terlalu bersemangat menanggapi rencana itu.

"Kami pernah menjajakinya dengan PT Dirgantara Indonesia, tapi kurang mendapat sambutan," ujar Janusz kepada Tempo, Rabu malam waktu setempat (4 September 2013), di sela-sela jamuan makan malam kenegaraan menyambut rombongan Presiden Yudhoyono yang diselenggarakan Presiden Bronislaw Komorowski di the Column Hall, Istana Kepresidenan Warsawa. The Column Hall adalah tempat komposer Frederic Chopin menggelar konser pertama kalinya pada 24 Februari 1818.

PZL Mielec mempekerjakan sekitar 3.000 karyawan. Perusahaan ini pernah menjual empat unit pesawat angkut multi-misi, Skytruck tipe M28 yang merupakan penyempurnaan dari An-28 Antonov untuk Kepolisian RI. "Tapi kini tinggal dua unit, karena dua pesawatnya jatuh karena kesalahan manusiawi. Padahal mesinnya bagus, tak ada masalah, sekali lagi  itu hanya human error," ujarnya.  

Janusz meyakini bahwa salah satu penyebab kecelakaan karena pihak Polri sebagai pemesan, tak mau pesawat angkut ringan ini dilengkapi Ticas, radar pendeteksi cuaca. "Mereka menyatakan tak butuh kelengkapan itu, padahal sangat diperlukan. Sejak bencana itu, kini kami wajibkan setiap penjualan Skytruck harus dilengkapi Ticas dan sistem deteksi canggih lainnya," kata Janusz sambil menikmati alunan suara bening  penyanyi kenamaan Polandia, Anna Maria Jopek.

Jenis pesawat multi-misi ini cocok untuk kondisi alam Indonesia yang sering dilanda bencana alam, tsunami misalnya.  "Landasannya tak perlu keras, mobilitasnya diperlukan untuk penyaluran bantuan kemanusiaan yang perlu gerak cepat," katanya.  M28 Skytruck kini dijual seharga US$ 6 juta hingga US$ 7 juta per unit—tergantung spefisikasinya. Saham PZL Mielec kini sepenuhnya dimiliki Sikorsky, perusahaan heli terkemuka di AS. "Kami juga memproduksi pesawat tempur Black Hawk yang tahun lalu dibeli Brunei Darussalam sebanyak 12 unit," kata Janusz.

Menurut Janusz, pada 2006 lalu, pihaknya pernah menawarkan 11 unit Skytruck, sekaligus juga bekerjasama dengan PT Dirgantara Indonesia, tapi respon pemerintah lamban. "Meski sudah disetujui Menteri Pertahanan kedua negara, dan akhirnya juga diteken Menteri Keuangan Polandia, tapi kabarnya ditolak Menteri Keuangan Indonesia," kata Janusz. Sejak itu, pihaknya terpaksa membatalkan rencana penjualan dan program produk bareng pesawat  yang dipakai Angkatan Udara dan Angkatan Laut Polandia ini.  Selain ke Indonesia, produk ini juga diekspor ke Amerika Serikat, Nepal, Kolombia, Venezuela dan Vietnam.

Wahyu Muryadi (Warsawa)


10.31 | 0 komentar | Read More

Keluhan Polwan: Sulit Tolak Atasan

Written By Unknown on Rabu, 04 September 2013 | 10.30

Bripda Primasari Dewi menjual jamu dan memberi penyuluhan kepada pengemudi becak dan warga di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, (1/9/). Penjualan jamu oleh Polwan ini merupakan bagian dari peringatan HUT Polwan ke 64 dan juga mensosialisasikan slogan "JAMU" atau Jaga Dirimu dari narkoba dan tindak kejahatan. TEMPO/Suryo Wibowo

TEMPO.CO, Jakarta - Masih banyak kisah polwan yang belum terungkap di media massa. Meski Polwan Indonesia baru saja merayakan hari jadinya yang ke-65 pada 1 September 2013 dengan meriah,  ada kisah-kisah sedih polwan yang merasa hanya diperhatikan karena penampilannya yang aduhai dan bukan karena kompetensinya sebagai polisi.   

Sumber Tempo di tubuh Polwan --yang sayangnya menolak disebut namanya-- menuturkan bahwa masih banyak pejabat Polri --terutama yang menjadi pimpinan-- yang memanfaatkan posisi mereka untuk menekan polwan bawahannya.

"Kalau komandan sudah punya keinginan atau kemauan, hampir tidak mungkin bisa ditolak meski kalau dipertimbangkan secara akal dan logika sangat tidak masuk akal," ujar sumber ini, akhir Agustus 2013 lalu.

Misalnya saja, ada pejabat polisi yang minta polwan bawahannya siaga 24 jam di sampingnya, dimanapun dia berada.  "Komandannya cuma bilang: kamu bawahan saya mesti nurut apa kata saya!" kata si sumber.

"Ada juga komandan yang genit sering menelepon di malam hari hanya buat ngobrol atau mengajak pergi keluar," kata sumber ini.

Rata-rata para polwan tidak bisa menolak karena takut karirnya terancam. Hanya sedikit yang berani mengadu dan membuat perubahan. Padahal jika diadukan, ada komandan yang sudah kena sanksi karena meminta polwan anakbuahnya melakukan hal di luar urusan kedinasan. "Sayanganya polwan itu banyak yang anak bawang, jadi takut," katanya.

Selain itu, polwan yang menuruti permintaan atasannya tanpa banyak cingcong biasanya akan dihujani dengan berbagai fasilitas dan kemudahan dari komandannya. "Mereka jadi terjerumus," kata sumber ini.

Ketika dikonfirmasi, Brigjen Basaria Panjaitan, salahsatu polwan dengan pangkat tertinggi saat ini, membantah sinyalemen itu. Menurutnya, hal semacam itu lazim terjadi di institusi dan profesi manapun, tidak hanya polisi. "Di mana-mana juga pasti ada yang seperti itu, sekarang tergantung individunya," kata Basaria.

HADRIANI P


Berita Terpopuler:
Bos Lion Air: Kami Kecolongan di Bali 
Jaksa Selidiki Korupsi di Acara Anang-Ashanty
Tujuh Mitos dan Fakta Masturbasi 
Lion Air Delay, Alvin Adam Terpaksa Menginap
Megawati Kerap Ajak Jokowi Diskusi Masalah Bangsa 


10.30 | 0 komentar | Read More

Polwan Pun Menyamar Jadi Pekerja Seks Komersial

TEMPO.CO, Jakarta - Untuk urusan menjalankan tugas, penyidik dan reserse polwan tak kalah militan dibandingkan rekannya yang pria. Mereka siap terjun ke medan apa saja, termasuk menyamar menjadi pekerja seks komersial.

"Kalau sedang menyamar, ya polwan berdandan seperti cewek gaul, rambutnya diwarnai, pake anting besar," kata Brigjen Basaria Panjaitan, mantan Direktur Reserse Kriminal Polda Riau yang kini menjadi Widyaiswara Madya di Sekolah Staf dan Pimpinan Polri,  pada Jumat, 30 Agustus 2012.

Salahsatu penyamaran polwan yang sukses mengungkap pelacuran skala besar terjadi pada September 2012 lalu di Polda Jawa Timur. Ketika itu, kata Basaria, sejumlah polwan cantik di Polda Jawa Timur menyusup ke jaringan pekerja seks komersial kelas tinggi dan menangkap germo terkenal asal Surabaya, Yunita alias Keyko.

"Ada tujuh polwan yang turun menyamar menjadi pelacur, anak buah Keyko," kata Basaria. "Polwan yang ditugaskan bukan polwan sembarangan, mereka polwan yang paling cantik se-Polda Jatim," kata Basaria sambil tertawa.

Tak semua berhasil menjalankan tugas. "Dari tujuh yang ditugaskan hanya satu polwan yang berhasil lolos dan masuk jaringan Keyko. Sebab, germo ini super selektif menerima para anak buahnya," kata Basaria.  

Pengalaman itu, kata Basaria, membuktikan bahwa wajah cantik semata tak cukup untuk jadi polwan yang mumpuni. "Mereka harus berotak encer untuk mengungkap kasusnya," katanya.

Basaria sendiri pernah juga menyamar ketika menyidik sindikat narkoba di Polda Riau. "Rambut saya panjang dimerahin atau dicat warna perak, pake jins," katanya sambil mengenang pengalamannya di lapangan.

HADRIANI P


Berita Terpopuler:
Bos Lion Air: Kami Kecolongan di Bali 
Jaksa Selidiki Korupsi di Acara Anang-Ashanty
Tujuh Mitos dan Fakta Masturbasi 
Lion Air Delay, Alvin Adam Terpaksa Menginap
Megawati Kerap Ajak Jokowi Diskusi Masalah Bangsa 


10.30 | 0 komentar | Read More

Aliran Duit ke Polri Dinilai untuk Lindungi Labora

Written By Unknown on Selasa, 03 September 2013 | 10.31

TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat kepolisian dari Universitas Indonesia Bambang Widodo Umar menilai dugaan aliran duit Aiptu Labora Sitorus ke beberapa perwira di Kepolisian Daerah Papua sampai Markas Besar Polri terjadi karena maraknya praktek perlindungan di kepolisian.

Bambang mengatakan, setoran dari bawahan ke atasan itu kerap terjadi secara sembunyi-sembunyi. Seorang bawahan yang "baik", kata Bambang, harus bisa berhubungan "baik" dengan atasannya bila mereka ingin bertahan lama. "Seperti hubungan si pelindung dengan yang dilindungi," ujar pensiunan polisi itu.

Hubungan atasan-bawahan itu, kata Bambang, akan terus bertahan meskipun mereka berpindah-pindah tugas. Mereka kemudian menjadi seorang patron yang akan berlangsung dalam waktu yang sangat lama. "Labora Sitorus masuk dalam suatu lingkungan hubungan itu. Perwira-perwira yang diduga menerima aliran duit Labora pasti pernah menolongnya," kata Bambang.

Tersangka illegal logging dan penimbunan BBM, Aiptu Labora Sitorus, lewat juru bicara keluarga mengaku pernah menyetor Rp 10 miliar ke sejumlah perwira Kepolisian Daerah Papua dan Markas Besar Kepolisian. Aliran itu tercatat rapi selama 16 bulan, sejak 1 Januari 2012-23 April 2013.

Dalam catatan yang diterima salinannya oleh Tempo itu, misalnya, Aiptu Labora menyetor 47 kali ke atasannya, mantan Kepala Polres Raja Ampat Ajun Komisaris Besar Taufik Irfan, rata-rata Rp 50-100 juta. Catatan aliran duit Labora ke beberapa perwira itu kini telah dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi.

KHAIRUL ANAM

Berita Terpopuler:
Briptu Rani: Keramahan Saya Disalahartikan
PPP Walkout, Pengamat: Tidak Ada Pengaruhnya
Kasus Trafficking, Gadis-Gadis Ini Dijerat Utang
Tiga Wartawan Diduga Peras Kepala Sekolah
Bagaimana Kain Etnik Beradaptasi dengan Zaman


10.31 | 0 komentar | Read More

Medan Merdeka Jadi Soeharto, Jangan Dipolitisir  

Buku Reformasi dan Jatuhnya Soeharto di toko buku di kawasan Tangerang, Banten, (20/5). Buku ini banyak diburu masyarakat karena mereka ingin mengetahui proses jatuhnya Presiden Soeharto pada 15 tahun lalu tepatnya 21 Mei 1998 sebagai awal Gerakan Reformasi.TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

TEMPO.CO, Jakarta - Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Mudzakki mengatakan agar rencana penggunaan nama mantan Presiden Soeharto sebagai pengganti Jalan Medan Merdeka tak dipolitisir. Menurut dia, penggunaan nama pahlawan untuk sebuah jalan adalah bentuk penghormatan atas jasa yang diberikan kepada negara.

"Jangan dilihat jeleknya saja, jasanya kan juga banyak," kata Mudzakki saat dihubungi Tempo, Senin, 2 September 2013. (Baca:Medan Merdeka Jadi Sukarno-Hatta, Ini Asalnya.

Mudzakki mengatakan pada dasarnya semua orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Dia menyarankan publik lebih objektif dalam menyikapi rencana tersebut. "Pak Harto dengan jasa besarnya saya rasa pantas untuk diabadikan sebagai nama jalan," kata Mudzakki.

Dia menyebutkan beberapa jasa Soeharto yang seharusnya tak dilupakan oleh masyarakat Indonesia seperti kebijakan swasembada pangan, pembangunan, serta transmigrasi. (Baca: Sejarawan: Pahlawan Tak Harus Jadi Nama Jalan)

Citra jelek Soeharto yang selama ini berkembang di masyarakat, kata Mudzakki, bersifat relatif. Kalau ditanyakan kepada warga hidup pada zaman Soeharto, menurut dia, akan banyak yang menanggapinya positif. Sebaliknya jika pertanyaan itu diberikan kepada mahasiswa yang hidup di era 1990-an tentu hanya akan melihat Soeharto dari segi negatifnya saja.

Selain menilai layak diabadikan sebagai nama jalan, pria yang pernah menjadi anggota tim perumus Rancangan Undang-Undang KUHP itu juga mengatakan Soeharto juga pantas mendapatkan gelar pahlawan nasional atas jasa-jasanya. "Tapi penilaiannya juga harus objektif, jangan hanya dilihat dari masa terakhirnya saja."

Delegasi Panitia 17 menargetkan tanggal 10 November untuk mengganti Jalan Merdeka Utara menjadi Jalan Bung Karno, Jalan Merdeka Selatan menjadi Jalan Bung Hatta, serta Jalan Merdeka Timur diganti Jalan Ali Sadikin, serta Jalan Merdeka Barat menjadi Jalan Soeharto. Ketua tim panitia 17, Jimly Asshiddiqie, mengatakan rencana perubahan jalan itu sudah dirundingkan dengan Gubernur Jakarta Joko Widodo. Selengkapnya soal kontraversi penamaan jalan Soeharto klik di sini.

FAIZ NASHRILLAH

Berita Lainnya:
Ahok Datangi Paripurna, Fraksi PPP Walk Out
Pedagang Ucapkan Terima Kasih kepada Jokowi
Luthfi Tutupi Sosok Bunda Putri ke Pengacaranya
Arsenal Akhirnya Dapatkan Mesut Ozil
Anggota DPRD Bacok Warga di Kantornya
Bisnis Sengman Malang Melintang di Palembang


10.31 | 0 komentar | Read More

Profesor Soetandyo Wignjosoebroto Wafat

Written By Unknown on Senin, 02 September 2013 | 10.31

Soetandyo Wignjosoebroto memberi pidato usai menerima penghargaan Yap Thiam Hien Award 2011 di auditorium Komisi Yudisial, Jakarta Pusat, Rabu (14/12). ANTARA/Fanny Octavianus/Spt/11.

TEMPO.CO, Jakarta - Prof Dr Soetandyo Wignjosoebroto meninggal sekitar pukul 07.00, Senin, 2 September 2003. Guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga ini meninggal setelah dirawat di Rumah Sakit Elizabeth Semarang. Jenazah sedang dalam proses diterbangkan ke Surabaya untuk disemayamkan di rumah duka, Jalan Dharmawangsa 3.

"Beliau memang meninggal di Semarang," kata Tutik Budiarjo, salah satu kerabat dekat almarhum. Menurut Tutik, jenazah almarhum diterbangkan dari Semarang ke Surabaya dan diperkirakan tiba siang hari.

Sosiolog hukum ini pernah menjadi anggota Komnas HAM 1993-2002 dan penerima Yap Thiam Hien Award. Ia lahir di Madiun, 19 November 1932, anak dari pasangan Siti Nadiyah dan Soekandar Wignjosoebroto, kepala di perusahaan kereta api.

Soetandyo menikah pada 1965 dengan Asminingsih (almarhum) dan dikaruniai tiga putri, yaitu Sawitri Dharmastuti, Saraswati, dan Titisari Pratiwi.

DIANANTA


10.31 | 0 komentar | Read More

Soetandyo, Dekan Pertama Fisip Unair Surabaya  

TEMPO.CO, Jakarta - Soetandyo Wignjosoebroto dilahirkan di Madiun pada 1932 dari pasangan Soekandar Wignjosoebroto dan Siti Nardijah. Soetandyo menyelesaikan studi sekolah menengah atas di Solo, kemudian belajar ilmu hukum di Universitas Airlangga, Surabaya.

Sebelum mendapatkan gelar sarjana, ia memperoleh beasiswa untuk belajar di Government Studies and Public Administration di University of Michigan, Amerika Serikat. Pada 1973, Soetandyo berkesempatan mengikuti Socio-Legal Theories and Methods di Marga Institute, Sri Lanka.

Ia adalah pendiri sekaligus dekan pertama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga. Pada 1993, ia menjadi anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Almarhum sudah menelurkan sejumlah buku, di antaranya Dari Hukum Kolonial ke Hukum Nasional dan Desentralisasi dalam Tata Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda.

Kedua buku itu merupakan hasil riset di Van Vollenhoven Institute, Leiden Universiteit, Belanda. Buku lainnya adalah Hukum: Paradigma dan Masalahnya. Selain menulis buku, Soetandyo aktif menulis berbagai artikel di jurnal ilmiah, surat kabar, maupun majalah, serta menjadi pembicara dalam berbagai diskusi maupun seminar.

Setelah pensiun sebagai pegawai negeri sipil pada 1997, hingga sebelum wafat ia masih mengajar teori sosial dan teori hukum di Universitas Airlangga sebagai guru besar Emeritus. Seperti dikutip dari Soetandyo.wordpress.com, selain di Universitas Airlangga, ia juga mengajar di Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, dan Universitas Pancasila Jakarta.

Hari ini, Senin, 2 September 2013, Soetandyo meninggal sekitar pukul 07.00 di Rumah Sakit Elizabeth Semarang. Jenazah sedang dalam proses pemulangan dari Semarang ke Surabaya untuk disemayamkan di rumah duka, Jalan Darmawangsa 3.

TRI ARTINING PUTRI


10.31 | 0 komentar | Read More

Brigjen Basaria: Tak Ada Halangan untuk Polwan

Written By Unknown on Minggu, 01 September 2013 | 10.30

TEMPO.CO, Jakarta - Berbagai posisi sudah pernah dilalui Brigjen Basaria Panjaitan. Kini dia menjadi widyaiswara di Sekolah Staf dan Pimpinan Polri di Lembang, Jawa Barat.  Basaria meneruskan tradisi jenderal polwan di negeri ini, yang sudah dimulai oleh Brigjen Jeanie Mandagi dan Brigjen Rumiah.

"Tak ada halangan untuk polwan berprestasi di Polri," kata Basaria, Jumat 30 Agustus 2013. "Sepanjang dia selalu bersungguh-sungguh menjalankan tugas dimanapun ditempatkan," katanya lagi. Dia membantah ada dominasi patriarkhi dalam tubuh Polri yang menghalangi para polwan mencapai posisi tertinggi.

Perempuan kelahiran Pemantang Siantar, Sumatera Utara, 20 Desember 1957 ini memulai karir kepolisiannya pada 1984. Ketika itu, Basaria baru lulus Fakultas Hukum Universitas Jayabaya. "Saya masuk polisi karena ingin langsung bekerja saja," katanya sambil tertawa.   Orangtua dan tujuh kakaknya tak ada yang jadi polisi.

Basaria masuk Sekolah Calon Perwira (Sepa) Polri di Sukabumi dan ditempa di sana. Lulus sebagai Polwan berpangkat Ipda, Basaria langsung ditugaskan di reserse narkoba Polda Bali.  

Dari sana, Basaria malang melintang di berbagai pos penugasan. Dia pernah menjadi Kepala Biro Logistik Polri, Kasatnarkoba di Polda NTT dan menjadi Direktur Reserse Kriminal Polda Kepulauan Riau. Dari Batam, Basaria ditarik ke Mabes Polri, menjadi penyidik utama Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim. "Karir saya kebanyakkan memang di reserse," katanya.

Basaria mengaku sering berbagi pendapat dengan para polwan baru, mendorong mereka untuk terus berprestasi tanpa memandang diri sendiri berbeda. "Menjadi wanita itu bukan halangan untuk meraih puncak prestasi," tuturnya.

HADRIANI P

Baca Edsus Polwan Jelita untuk Peringatan 65 Tahun Polwan Indonesia

Berita Edsus Polwan Jelita Lainnya:
Brigadir Avvy Olivia: Sesuai Perintah Atasan
Brigadir Avvy Olivia Pernah Jadi Pramugari Polri
Tindakan Negatif Polwan Bukan Dari Institusi
Jumlah Polisi Wanita Hanya 3,6 Persen
Dari Dulu Polwan Cantik Dan Pintar


10.30 | 0 komentar | Read More

Ini Rahasia Sukses Polwan Versi Brigjen Basaria

TEMPO.CO, Jakarta - Brigen Basaria Panjaitan kini merupakan polwan dengan pangkat tertinggi di jajaran Polri. Pernah menjadi Direktur Reskrim Polda Kepulauan Riau dan Kepala Pusat Provost Mabes Polri, nama Basaria sudah akrab di telinga para polwan se-Indonesia. Dia sering memberi motivasi pada para polwan yunior.
 
"Saya suka melakukan sharing dengan para yunior untuk memotivasi dan menyemangati mereka bahwa polwan harus bisa malang melintang dan siap sedia ditempatkan di mana saja," kata Basaria, kepada Tempo, Jumat 30 Agustus 2013 lalu.

Menurut Basaria, Polri tidak mengenal perbedaan antara polwan dan polisi pria. Kiprahnya selama ini, menurut dia, adalah buktinya. "Prinsip saya, di mana pun ditempatkan harus sungguh-sungguh," katanya.

"Saya selalu menikmati setiap penempatan tugas. Yang penting kita fokus, sehingga mau ditempatkan di manapun kita sanggup, mampu dan bisa," ujarnya. Itulah rahasia sukses seorang polwan, menurut Basaria. Dia sendiri pernah bertugas sebagai reserse narkoba, kepala logistik, sampai provost.

Basaria optimistis peran polwan pada masa depan akan semakin menonjol di lingkungan kepolisian. "Prinsipnya, kalau sama-sama mampu (dibanding polisi lelaki) jalani saja. Tunjukkan bahwa gender bukan halangan melayani masyarakat," katanya.

HADRIANI P

Baca Edsus Polwan Jelita untuk Peringatan 65 Tahun Polwan Indonesia

Berita Edsus Polwan Jelita Lainnya:
Brigadir Avvy Olivia: Sesuai Perintah Atasan
Brigadir Avvy Olivia Pernah Jadi Pramugari Polri
Tindakan Negatif Polwan Bukan Dari Institusi
Jumlah Polisi Wanita Hanya 3,6 Persen
Dari Dulu Polwan Cantik Dan Pintar


10.30 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger