Rabu, 24 Oktober 2012 | 09:28 WIB
TEMPO.CO, Yogyakarta - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif mengatakan tak mempermasalahkan keberadaan permukiman di kawasan rawan bencana I, di sekitar lereng Merapi, saat ini. Sebelumnya, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta telah menetapkan batas waktu pada 15 September lalu bagi 500 warga di wilayah Sleman untuk relokasi.
Menurut Syamsul, keberadaan warga di kawasan rawan bencana ini tak bermasalah karena mereka menyatakan sendiri siap siaga menghadapi bencana. Pernyataan ini, kata dia, menunjukkan warga menyadari apa yang harus dilakukan untuk menyiapkan segala risiko saat letusan terjadi. "Mereka bilang siap, jadi kita perbolehkan saja," ujar dia seusai pembukaan "Konferensi Tingkat Menteri Asia untuk Mereduksi Risiko Bencana" di Jogja Expo Center, Selasa, 23 Oktober 2012.
Syamsul mengatakan, keberadaan warga yang menetap di kawasan bahaya seperti itu hanya butuh pendampingan berupa program yang mendukung living in harmony dengan kawasan rawan bencana. "Kata BPPTK, tujuh hari sebelum Merapi meletus, sudah bisa dideteksi. Dalam waktu selama itu, saya bisa cepat mengungsikan mereka," ujar Syamsul.
Dia mengatakan, sikap ini diambil BNPB karena strategi pengurangan risiko bencana memang tak selalu harus relokasi dari kawasan rawan bencana. Menurut Syamsul, ada empat strategi, yakni menjauhkan warga dari lokasi bencana, menjauhkan bencana dari warga, mendukung living in harmony, dan memanfaatkan kearifan lokal.
Saat ini, kata Syamsul, BNPB terus menambah infrastruktur yang bisa mendukung kemudahan bagi pengungsi saat letusan terjadi. Contohnya, di lereng Merapi yang ada di kawasan Balerante, Klaten, Jawa Tengah, sudah dibangun tiga lokasi pengungsian dengan kapasitas 1.000 hingga 1.500 orang.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Surono, di sela konferensi, menjelaskan bahwa semua kawasan rawan bencana tidak bisa ditempati. Pemerintah daerah harus membuat konsep tata ruang yang benar-benar berdasarkan mitigasi bencana. "Sayang, living in harmony di gunung berapi tak semudah dikatakan, semua risiko harus segera dipetakan," kata dia.
Surono memperkirakan, sebesar apa pun letusan Merapi di masa mendatang, efeknya tak akan terlalu besar jika sistem peringatan dini semakin canggih dan sempurna. Dia mengatakan, erupsi 2010 berdampak besar karena sistem peringatan dini masih lemah dan warga menghiraukan peringatan dari pemerintah.
Agralno, Sekretaris Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, menuturkan, selama ini dalam pengurangan risiko bencana, pemerintah terus terpaku pada persoalan relokasi, sementara persoalan lain diabaikan. "Bagi kami, (relokasi) bukan prioritas utama untuk mengatasi bencana," kata Agralno kepada Tempo.
Dia mengatakan, hingga kini di desanya masih ada 400 keluarga korban erupsi yang menolak relokasi. Mereka tersebar di tiga dusun: Srunen, Kalitengah Lor, dan Kalitengah Kidul. Sehari-hari, para warga itu masih beternak sapi dan bertani.
Menurut dia, warga selama ini menanti peran pemerintah memulihkan ekonomi. Relokasi dinilai tak relevan. "Sekarang siapa yang bisa hidup dengan lahan relokasi seluas 100 meter persegi, sementara warga bisanya hanya beternak dan bertani," kata dia. Sebelum erupsi, rata-rata warga punya lahan minimal seperempat hektare.
Adapun juru kunci Merapi, Mas Lurah Suraksihono, mengatakan, saat ini dia dan warga Kinah Rejo yang telah direlokasi tetap memilih tinggal di lokasi baru di Karang Kendal, Umbul Harjo, Cangkringan, Sleman. "Saat ini kami belum berpikir kembali ke atas, meski ada program living in harmony itu," kata dia kepada Tempo.
Putra almarhum juru kunci Merapi, Mbah Maridjan, itu mengakui, setelah direlokasi, banyak warga yang masih kembali ke atas untuk menjalani kegiatan sehari-hari seperti sebelum erupsi, yakni bertani. Prinsip yang dianut warga yang sudah mendapat hunian tetap saat ini seragam. "Tinggal di bawah, kerja di atas," ujarnya terkekeh.
ADDI MAWAHIBUN IDHOM | PRIBADI WICAKSONO
Anda sedang membaca artikel tentang
Kawasan Rawan Bencana Merapi Boleh Ditinggali
Dengan url
https://nasionalitas.blogspot.com/2012/10/kawasan-rawan-bencana-merapi-boleh.html
Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya
Kawasan Rawan Bencana Merapi Boleh Ditinggali
namun jangan lupa untuk meletakkan link
Kawasan Rawan Bencana Merapi Boleh Ditinggali
sebagai sumbernya
0 komentar:
Posting Komentar