Selasa, 09 Oktober 2012 | 10:20 WIB
TEMPO.CO, Yogyakarta- Aksi mendukung Komisi Pemberantasan Korupsi oleh elemen masyarakat sipil yang bergabung dalam Aliansi Masyarakat untuk KPK (AMUK) cukup unik. Seekor anjing jenis golden dengan rambut kepala lebat ikut serta dalam aksi yang berlangsung pada pukul 13.00-14.30 itu. Aksi berawal dari istana negara Gedung Agung hingga Kepolisian Resor Kota Yogyakarta, Senin 8 Oktober 2012.
Anjing tersebut diberi kalung dengan gantungan kertas yang bertulisan "Mencari Jejak SBY". Anjing tersebut berjalan paling depan di belakang spanduk yang bertulisan "Selamatkan KPK, Selamatkan Indonesia" sehingga mencuri perhatian masyarakat. "Itu spontanitas dari peserta aksi. Maksudnya untuk mengingatkan presiden yang tak muncul saat perseteruan KPK dengan Polri kian meruncing," kata Direktur Indonesian Court Monitoring Tri Wahyu yang ikut serta dalam aksi tersebut.
Tak hanya membawa anjing, aksi damai itu juga diakhiri dengan penyerahan karangan bunga kepada Kepala Satuan Bimbingan Masyarakat Polresta Yogyakarta Komisaris F Rahman di depan gedung Polresta Yogyakarta. Kepala Polresta Yogyakarta Komisaris Besar Mustaqim, yang diharapkan AMUK menemui mereka, ternyata tak ada di tempat.
Dia dikabarkan tengah mengikuti rapat di Kepolisian Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Karangan bunga bertulisan "Bela Sungkawa atas Arogansi Polri terhadap KPK" itu diterima F Rahman dengan senyum. Bahkan koordinator umum aksi, Bambang Tiong, yang juga Direktur Jaringan Pemantau Polisi, menalikan pita berwarna hitam ke lengan kanan Rahman.
Demonstrasi yang diikuti oleh setidaknya 300 orang ini dibubarkan polisi dengan cara teduh. Polisi mengkumandangkan bacaan ayat kitab suci dengan suara keras sebagai senjata andalan. "Demo silakan demo, tidak ngusir," kata Kepala Satuan Sabhara Komisaris Agus Purwanto setelah massa AMUK membubarkan diri di depan Markas Polresta Yogyakarta.
Sejak pukul 14.00, mereka menggelar orasi mendukung pemberantasan korupsi yang dilakukan KPK. Setelah setengah jam menyampaikan aspirasi, massa berniat mengakhiri aksi. Dari pengeras suara di atas mobil bak terbuka, seorang demonstran lantang meneriakkan pernyataan sikap. Belum lagi tandas terbaca, suara ayat suci melantun dari pengeras suara Masjid Baiturrahim di halaman markas polisi. "Sabbikhisma rabikal a'la," bait pertama surat Al-A'la itu melantun. Keras suaranya melebihi teriakan pembacaan sikap dari demonstran.
Jarak waktu antara pembacaan ayat suci dan salat asar sekitar 15 menit. Padahal, "Biasanya hanya 5-10 menit," kata F. Rahman. "Tak apa juga, memang juga sudah selesai demonya." Cara yang disebut "polisi adem, pendemo juga adem" ini, kata dia, tak hanya diterapkan sekali ini. Sebelumnya, dalam aksi menolak kenaikan harga bahan bakar minyak di kawasan Malioboro beberapa waktu lalu, polisi juga mengirimkan tim untuk membaca Al-Quran di sekitar pendemo.
PITO AGUSTIN RUDIANA | ANANG ZAKARIA
Anda sedang membaca artikel tentang
Si Golden Mencari Jejak Presiden
Dengan url
https://nasionalitas.blogspot.com/2012/10/si-golden-mencari-jejak-presiden.html
Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya
Si Golden Mencari Jejak Presiden
namun jangan lupa untuk meletakkan link
Si Golden Mencari Jejak Presiden
sebagai sumbernya
0 komentar:
Posting Komentar